More than just a word

Anything, Everything, and All the Things..


2 Comments

Aku Tidak Tahu Benar atau Salah, Yang Aku Tahu, Ada Sejuta Cinta Untukmu

Menjadi seorang ibu, pengalaman paling mengesankan yang aku alami sepanjang sejarah hidupku. Dan ini akan menjadi kisah seumur hidup.

Menjadi seorang ibu, sesungguhnya tidaklah selalu seindah foto-foto ceria yang diunggah di media sosial dengan caption-caption romantis nan menawan. Tidak selalu begitu.

Ada saat-saat di mana kau merasa menjadi orang paling beruntung sealam jagat, ada saat-saat di mana kau merasa ini kisah terkelam sepanjang hayat.

Ada saat di mana kau merasa kau lah orang yang paling penuh cinta, ada pula saat di mana kau merasa penuh bersalah menyesali tindakanmu yang berlawanan jauh dengan kata ‘cinta’.

Selamat datang, di kehidupan seorang ibu.

Aku, bukan seorang ibu sempurna seperti yang dituntut oleh teori-teori parenting. Banyak kesalahan-kesalahan yang aku buat. Sialnya, aku tahu itu salah namun dalam kondisi tertentu tetap kulakukan juga.

Aku, seorang ibu rumahan. Dua puluh empat jam mengurus anak, menghadapi tawa dan tangisnya, riang dan rewelnya, manis dan tantrumnya. Seorang diri. Ya, sendiri. Tanpa pengasuh. Tanpa pembantu. Tanpa kerabat yang membantu.

Aku tidak mengatakan diriku hebat karena aku mengurus semuanya tanpa bantuan. Semua terdesak oleh situasi. Dan dalam situasi yang sangat terdesak, aku pun sering lepas kendali, yang pada akhirnya aku sesali.

Sejuta maaf mungkin tidak akan pernah bisa menghapus rasa bersalahku dan kenangan pahit dalam memorinya. Maaf nak, ibumu ini hanya manusia biasa.

Tapi yang perlu kamu tahu, kamu adalah kebahagiaan terindah yang pernah aku miliki. Kamu membuatku percaya ungkapan-ungkapan cinta yang sebelumnya aku ragukan; cinta pada jumpa pertama, mencintai lebih dari diri sendiri.

Ya, aku mencintaimu sejak pertama aku melihatmu–bahkan jauh sebelum aku bertatap muka denganmu. Kamu juga membuatku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Maafkan aku yang sering tidak tahan mendengar tangisan dan jeritanmu saat kau merasa sesuatu tidak sesuai dengan keinginanmu. Maafkan aku yang masih belum bisa mengatur emosi menghadapimu yang sesungguhnya sedang belajar mengatur emosi juga–dan sayangnya aku belum bisa menjadi contoh baik untukmu.

Kamu juga harus tahu, aku selalu dan akan selalu menyayangimu. Karir, cita-cita, semua aku lepas demi kamu, demi merawat dan menjagamu.

Suatu saat nanti kamu akan tumbuh dewasa, menjadi seorang istri, seorang ibu. Jangan pernah ragu untuk selalu menghubungiku saat kau menemui kesukaran. Aku akan selalu ada dalam hidupmu kapan pun kau membutuhkan. Semoga itu bisa menjadi penghapus kesalahan-kesalahanku di masa kecilmu.

Sejuta cinta (bahkan lebih) akan selalu tersedia untukmu, sayang…

Lots of love,
Bunda

Advertisements


Leave a comment

Kenyamanan?

Aku pernah baca suatu tulisan yang disebar di suatu grup, aku gak bener-bener tau sih siapa penulis aslinya. Tapi tulisan ini begitu membekas banget di pikiran aku. Berkisah tentang perceraian. Si istri menuntut cerai suami hanya karena kebiasaan buruk suami yang si istri gak bisa menahannya. Tulisannya sebagai berikut:

CERAI…..
Sebenarnya baik atau buruk? Papa dan mama bercerai, cuman hanya karena papa melemparkan puntung rokoknya ke dalam pot tanaman milik mama..Mamaku adalah seorang yang…bahkan untuk ke depan rumah beli sayur pun akan berpakaian super rapi dan tampil cantik. Waktu aku 12 tahun, papa dan mama bercerai, cuman karena, papa suka melempar puntung rokok ke dalam pot tanaman mama yang juga nggak begitu terawat. Tapi walau mama udah bilang berapa kali pun, papa tetap tidak berubah.
Waktu teman-teman dan keluarga mama datang untuk mencegah, mama selalu menjawab, “Dia orang baik, cuman 1 hal aja aku gak bisa terima..” Nenekku marah besar waktu itu, nenek bilang sama mama, “Kamu itu terlalu pinter, jadi aja banyak ngurusin hal yang kayak gini..”
Di mata nenek, menantunya adalah seorang yang hebat, gentle, pintar cari uang dan bisa melindungi keluarga, malahan anak perempuannya sendiri dia nilai sangat egois dan nggak pernah peduli akan perasaan orang tua dan anak. Nenek juga gak ngerti kenapa mama selalu membesar-besarkan papa yang gak suka mandi, suka sembarangan lempar kaos kaki, gak punya waktu temenin mama, gak inget ulang tahun mama, hari pernikahan mereka,……
Walaupun ini termasuk kekurangan, tapi bukannya semua cowok memang kayak gitu yah?
Aku masih ingat dengan jelas, waktu mama membawaku keluar dari rumah kami dulu, mama menangis dan berkata padaku, “Semoga kamu bisa mengerti mama, seumur hidup itu terlalu lama..”
Waktu aku 16 tahun, papa tiriku datang, dia tidak tinggi dan segagah papa, wajahnya juga biasa aja, tapi memang penampilannya bersih dan senyumnya lembut, aku sendiri bahkan nggak merasa sebal dengan keberadaannya.
Papa tiriku bisa membantu mama mengganti pot-pot tanaman yang sudah rusak, dia juga membelikan mama taplak meja baru dan satu set alat makan baru, dia membelikan mama sepasang sepatu putih yang sangat cocok dengan baju merah kesukaan mama. Bahkan, dia membelikan aku gantungan kunci cantik untuk mengganti gantungan kunci lama yang kusam.
Papa tiriku akan memegang tangan mama dan pergi jalan-jalan sore bersama untuk melihat matahari terbenam, mereka akan pergi berdua melihat bunga di taman depan rumah dan akan memberi tahu mama setiap nama bunga itu. Bahkan papa tiriku akan membawa pulang beberapa tangkai ranting yang sudah jatuh dan menaruhnya di dalam sebuah pot lalu meletakkan di atas meja belajarku.
Mama sangat suka belajar masak, setiap kali mama masak resep barunya, papa tiri selalu mengajakku duduk di meja makan dengan rapi sambil menunggu mama menghidangkan makanannya dan mulai mengomentari makanan mama, mama selalu tersenyum.
Suatu kali, mama sakit dan dirawat di rumah sakit, waktu aku pergi ke sana, aku melihat ada satu buket bunga lily di sebelah ranjang mama. Di atas meja ada buah yang udah dipotong, sedangkan papa tiriku duduk di sebelah mama sambil membaca buku. Seorang ibu yang ada di ranjang sebelah selalu memandang ke arah mama dengan tatapan iri. Aku akhirnya mengerti apa yang dimaksud dengan “Seumur hidup itu terlalu panjang”.
Pernikahan bukan cuman perlu dua orang yang baik, tapi perlu dua orang yang bisa merasa nyaman satu sama lain. Sama seperti membeli sepasang sepatu baru, kamu baru bisa merasa nyaman setelah kamu memakainya, gak cuman dengan melihat keindahannya saja. Karena seumur hidup itu terlalu panjang, maka sobat cerpen, penting sekali untuk menikahi orang yang nyaman, bukan hanya orang yang baik. Setiap kita memiliki sifat berbeda, maka kita membutuhkan orang berbeda untuk melengkapi pernikahan kita.
Memang bercerai bukanlah hal yang seharusnya menjadi tujuan kita, kalau bisa menikah dengan orang yang tepat, kenapa harus mencoba dengan orang yang tidak tepat kemudian bercerai?
Ternyata cinta saja tidak cukup, rasa nyamanlah yg diinginkan setiap orang.
Nah, dari sini jelas banget kalo yang dibutuhkan setiap orang dalam pernikahan adalah rasa nyaman. Begitu halnya dalam mencari jodoh. Tidak cukup hanya baik, bertanggung jawab, setia, dan sederet sifat-sifat baik lainnya. Tapi bagaimana seseorang itu bisa membuat kita merasa nyaman. Kalau hanya baik dan setia sih banyak. Semua orang pun pada dasarnya baik. Tapi yang membuat nyaman? Gak semuanya bisa. Mereka bilang harus saling menerima kekurangan pasangan. Tapi jika benar-benar tidak bisa menerima, lantas haruskah dipaksakan meski sakit? Sama halnya seperti memilih baju atau sepatu. Sepatu itu memang bagus, keren, dan tampak gaya. Tapi kalo emang bener-bener gak muat di kaki kita, apa harus kita paksakan untuk memilikinya meski kaki selalu kesakitan setiap saat memakainya? Atau mencari opsi lain yang bener-bener pas di kaki kita?
Aku sendiri bukan tipe orang yang bisa bertahan dalam ketidaknyamanan. Aku cenderung menghindari ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan ini bisa jadi sesuatu, situasi, atau seseorang. Orang yang kata-kata atau perilakunya selalu menyakitkan dan membuatku merasa tertekan, aaahh pasti aku pengen jauh-jauh dari orang itu. Begitu pula dengan situasi. Maksudku, aku gak mau buang-buang waktu hanya untuk berada dalam tekanan. Masih banyak sumber kebahagiaan lain yang bisa dicari. Dan jika ada sesuatu yang membuatku bertahan, artinya sesuatu itulah yang bikin aku nyaman.
Aku juga bukan tipe orang yang bisa memendam apa yang aku rasa. Karena itu sungguh gak nyaman. Aku akan meluapkannya. Dalam bentuk tulisan, curhat ke suami, atau curhat kepada teman atau keluarga yang aku merasa nyaman dan aman untuk bercerita.
Sebagian orang mungkin memilih untuk bertahan walau tidak nyaman, memilih untuk bungkam walau tertekan, walau menyakitkan, hanya karena mereka (merasa) tidak punya pilihan lain, atau alasan kesopanan. Tetapi akan selalu ada pilihan jika kita BERANI untuk memilih. Dan aku memilih untuk merasa bahagia, juga nyaman. Kita semua pantas untuk merasa bahagia.

Btw, kalau ada yang tahu siapa penulis cerita yang aku kutip itu atau mungkin KAMU-lah si penulis, beri tahu aku, ya! Biar aku bisa kasih credit 🙂


Leave a comment

Cabut Geraham Bungsu: Ouchh!!

Sebenernya gue tipe orang yang gak cukup punya nyali buat ngelakuin hal yang bernama cabut gigi. Terlebih gue orangnya takut banget sama jarum suntik. Tapi karena gak tahan sakit gigi berkepanjangan pada geraham bungsu sebelah kiri yang juga udah bolong parah, gue berani-beraniin deh cabut gigi. Dan gue kapok!! 😷😭

Jadi, awalnya gue periksa dulu ke dokter gigi di klinik Kimia Farma Cilegon (kebetulan BPJS nya di situ), kemudian beliau kasih rujukan untuk cabut gigi di RSUD Cilegon.

Singkat cerita, sampailah gue di RSUD. Nah, pas duduk di ‘kursi panas’ di ruang dokter gigi itu gue udah deg-degan gak karuan. Oh, ya, sebelumnya gigi di-rontgen dulu. Entahlah impaksi atau engga. Posisinya sih geraham gue nongol normal tapi kayak agak miring gitu. Kemudian, di kursi panas, mulailah sang dokter gigi menyuntik dinding mulut gue (pipi bagian dalam). Jangan tanya sakitnya gimana. Sedih kalo diceritain mah. It hurts sooooo badd!! 😭

Setelah suntik, dia diamkan beberapa saat dan mulai mencongkel si bungsu. Dan gue merasa kesakitan luar biasa sampe teriak. Lalu dokternya bilang, ‘Loh, emang masih kerasa sakit? Kalo gitu harus dibius lagi.’

I was like, ‘What???? Suntik lagi???’

Setelah suntikan kedua itu baru deh pipi gue berasa kebal, kayak kesemutan dan beliau kembali menjalankan aksinya. Prosesnya berlangsung lamaaaaa. Dokternya bilang sih gigi gue keras gitu, susah diambilnya. Ditambah lagi guenya gak rileks (katanya). Gue cuma meringis aja and hope everything’s fine. Sulit untuk rileks di saat gue tau bagian tubuh gue sedang diutak-atik. Pisau bedah, benda-benda sejenis obeng, tang, bor, pada masuk ke mulut gue. Hikssss..

Akhirnya, setelah si bungsu berhasil diangkat, gue lega banget dan tak lupa mengucap hamdalah. Gue pikir selesai sampai di situ. But wait, the dentist then said, ‘Tinggal diobras nih’ sambil bawa jarum dan benang jahit. Gue kembali ketakutan 😲😨

Setelah proses menjahit selesai, gue disuruh gigit semacam tampon yang ada betadine nya dan gak boleh dilepas selama setengah jam. Dikasih tau juga gak boleh kumur-kumur dulu selama sehari semalam. Terus dikasih resep, ngantri buat ambil obat, dan pulang.

Gue pikir setelah gigi dicabut masalah selesai. Tapi ternyata enggak. Karena udahnya masih kerasa sakit nyut-nyutan luar biasa dan gue sering nangis karenanya 😢. Dua hari kemudian bahkan sampe bernanah. Gue khawatir itu adalah dry socket (dari hasil googling). Dan itu sakitnya pake bangeeeeettt. Bikin inget dosa 😭. Belum lagi dada yang kerasa sering sesak, mungkin efek dari kebanyakan minum asam mefenamat sebagai pereda nyeri. Bener-bener gak nyaman deh. Gue cuma bisa makan bubur dan yang lunak-lunak. Itu pun gak banyak. Beneran diet yang ampuh pokoknya.

Akhirnya satu minggu berlalu dan tiba saatnya gue kontrol jahitan. Dokternya bilang udah bagus, tapi lukanya belum sembuh, katanya sih lama sembuhnya. Entah berapa lama. Lalu beliau mulai melepas benang jahitnya. Dan gue diresepin antibiotik lagi dan vitamin B. Kali ini gak dikasih pereda nyeri. Gue agak sedikit lega pas beliau bilang udah bagus, walau kadang masih suka nyut-nyutan.

Nah, the problem is… Sekarang udah satu minggu dari lepas benang jahitan itu, tapi si gusi masih suka nyut-nyutan ringan (gak sehebat dulu sakitnya) sampe ke telinga. Gue juga masih suka berasa perih di area pipi yang bekas dibius (secara gue dibius dua kali). Lalu gue memberanikan diri untuk ngeliat dari cermin dengan bantuan senter. Dan hal menyeramkan terlihat. Gusinya masih bolong sampe keliatan tulang dari dalemnya. Gue lemes dong. Takut. Tapi dari hasil googling, katanya itu normal karena penyembuhan bisa sekitar 2-3 bulan. Jadi mungkin sekitar 3 bulanan gue masih akan merasakan sakit. Mau kontrol lagi tapi gue bener-bener masih trauma dan takut. Semoga semua baik-baik saja, ya Allah 😖😇

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, karena banyak juga cerita sukses di balik kisah pencabutan geraham bungsu. I’m just sharing my experience.


Leave a comment

‘Menyapih’ Kei dari Nonton

Yupp.. setelah selesai menyapih Keiria Amandari dari ASI kesukaannya. Sekarang ada PR baru. Menyapih Kei dari nonton video-video kesukaannya. Kenapa harus ‘disapih’? Ya, karena aku merasa memang sudah saatnya. Fyi, aku bukan tipe orang tua yg melarang tivi atau gadget sih. Tipe parenting ala aku mah santai aja, gak saklek harus gini gitu. Mau nonton melalui televisi atau ponsel ya boleh-boleh aja selama dalam porsi yang wajar dan yang pasti kontennya harus ‘lulus sensor’ emaknya dulu 😁

Ini berawal ketika aku mulai melihat gelagat yang tidak baik dari Kei. Apa-apa dia pengen sambil nonton. Makan, mau tidur, pokoknya harus sambil nonton video kesukaannya di tivi. Bahkan dia betah berlama-lama tiduran atau duduk berdiam diri sambil menonton. Kalau dilarang bisa ngamuk-ngamuk. Aku tau ini enggak sehat. Anak seumurannya sudah semestinya lebih banyak bergerak. Aku pernah baca semakin banyak anak bergerak, semakin berkembang pula otaknya yang mempengaruhi kecerdasannya. Aku gak mau dong otak anakku gak berkembang karena kurang gerak 😱

Akhirnya, aku dan suami memutuskan untuk mematikan tivi saja. Secara total. Ya, kita sama sekali gak nonton tivi dalam lima hari terakhir. Pernah dengar, kan, pepatah bahwa anak mungkin tidak mendengar apa yang orang tua katakan, tapi dia akan memperhatikan apa yang orang tua lakukan. Artinya, jika kita ingin anak gak nonton tivi, maka kita juga gak boleh nonton tivi dong. Dan sampai hari ini, tepat sudah lima hari tivi di rumah kami tidak menyala. Kita bilang aja sama Kei batre tivi nya abis, gak bisa nyala 😂

Apakah semua berjalan mulus? O, tentu tidak. Awalnya Kei ngamuk-ngamuk gak dibolehin nonton Elsa Frozen kesukaannya. Nangis-nangis bahkan sampai membanting krayonnya. Tapi peraturan tetap peraturan. Harus konsisten. Gak boleh ya tetep gak boleh. When they said ‘rules are made to be broken’, I said ‘my kid should not break the rules I made’. Lama-lama Kei lupa dengan video kesukaannya. Dia gak lagi minta nonton tivi saat makan. Gak lagi minta disetelin ‘Let It Go’ atau ‘Do You Wanna Build A Snowman’. Gak lagi minta nonton Thomas and Friends. Dia lebih banyak gerak. Gpp lah kita ikutan lari-lari di dalam rumah walau badan udah capek, ikut nemenin main tanah di luar walau baru ganti baju, membacakan cerita hingga mulut berbusa walau mata udah ngantuk. Itu lebih baik daripada membiarkannya berdiam diri di depan layar.

Ini semua tidak akan berhasil tanpa ada kekompakan dengan pasangan. Ya, kini aku paham kenapa ada istilah ‘udah beda pendapat’ (alasan yang sering dikemukakan pasangan yang berpisah). Ini penting sekali ternyata. Dalam hal apa pun kalau tidak sependapat ya bakal susah menyatukannya. Termasuk dalam hal pola asuh. Beruntung jika kita memiliki pasangan yang memiliki ‘energi’ yang sama dengan kita. Sehingga bisa meminimalisir perang pendapat yang mungkin berujung pertengkaran.

Aku bersyukur sekali menjadi seorang SAHM (stay at home mom). Aku bisa memantaunya sepanjang hari, melihat perkembangannya dengan mata kepala sendiri–bukan hanya mendengar dari orang lain. Aku juga tau betul bagaimana karakternya karena aku menghadapinya sepanjang hari, setiap hari. Dan yang paling penting memastikan peraturan yang kubuat berjalan dengan baik, karena orang lain belum tentu mampu menjalankan dengan baik peraturan yang kita terapkan untuk anak.

Ya, begitulah sepenggal kisahku dalam rangka menyapih Kei dari layar tivi. Apa pun pilihan dan gaya parenting kita, pastikan itu yang terbaik untuk anak ya, dear Parents 😃


Leave a comment

Don’t Be Too Hard to Yourself

Mudah dikatakan, belum tentu mudah dilakukan. Jangan terlalu mempersulit diri sendiri, tapi pada kenyataannya ya memang melelahkan. Hahaha..

Menjadi ibu rumah tangga, jauh dari keluarga, gak ada yang bantuin, dengan seorang balita yang setiap hari selalu sibuk, banyak maunya, minta ambilin ini, bukain itu, pengen diajak ke sana, pengen ke situ, sungguh riweuh memang. Apalagi sambil kerja juga dari rumah. Kadang waktu 24 jam aja gak terasa cukup. Kadang pengen nangis sendiri, kadang gak bisa istirahat sama sekali. Ketika anak tidur, kerjaan rumah tangga menunggu untuk dikerjakan. Ketika semuanya selesai, pekerjaan profesional udah melambai-lambai minta disentuh.

Tapi, seiring berjalannya waktu, semakin terbiasa dengan semuanya, walau masih ada baper-baper dikit sih, kadang suka sensi dan nangis-nangis gak jelas di depan suami 😝

Kalo suami udah sampe rumah tuh rasanya kayak ada pahlawan dateng. Si Kei langsung nyamperin ayahnya dan hak asuh pun diambil alih. Emaknya bisa leluasa deh. Leluasa nyapu dan nyuci piring maksudnya 😁

Menurut aku, dukungan dari pasangan juga perlu pake banget. Kalo dikerjain sama-sama, semua jadi terasa ringan. Sekarang, beliau tugasnya nyuci baju dan jemur baju. Nyuci juga pake mesin tinggal pencet-pencet doang selese sih. Hahaha.. Dukungan batin juga perlu. Didengerin, diperhatiin, dimanja-manjain 😂

Yah, dibawa santai aja lah ya. Kalo gak sempet masak ya tinggal beli. Gak sempet beberes yaudah, sesempetnya aja. Gak sempet istirahat? Dinikmati aja rasa kantuk dan lelah itu. Hihihi..

Udah dulu kali ya nulisnya. Dicie-ciein nih sama si ayang, dia ngintip-ngintip aku ngetik 😒

Sama aja gak leluasa juga yaa..

 


Leave a comment

Sedih itu…

Sedih itu ya di saat-saat seperti ini. Harus ninggalin suami (lagi). Beraaaaat banget rasanya. Ampe nangis pelukan dulu sebelum pergi. Tapi mau gimana lagi. Kondisi badan udah drop. Butuh istirahat, sementara Kei juga harus ada yang ngurus. Dengan terpaksa, aku pulang dulu ke rumah Mama. Karena di sini, aku bisa istirahat sejenak, tanpa pekerjaan rumah yang selalu numpuk, dan Kei juga banyak yang mengasuh di sini.

Begini kalo jauh dari orang tua. Pas kecapean dan jatuh sakit, gak ada yang mengurus dan merawat. Malah, walaupun sakit, walaupun demam, harus tetep ngurus anak, ngurus rumah, masak, belanja, nyuci, ngurus suami, dan yang lainnya. Sama sekali gak bisa istirahat. Sampe akhirnya gak kuat lagi.

Maaf, ya, sayang… Aku bener-bener butuh waktu, untuk pulih kembali. Maafkan kondisi fisikku yang lemah ini. 😢


2 Comments

Mothering: When You’re Just About to ‘Lose It’

Hello, my blog! How are you? It’s been a long day without me yah.. 😃 Bikin blog dari jaman gadis (masih perawan 😁), niatnya sih pengen jadi active blogger. Ah, gak kerasa sekarang gue udah jadi emak-emak, dengan anak yang namanya diambil dari nama username gue. Hihii..

Sekarang lebih seringnya sih curhat di medsos, lebih simpel karena dari hape. Bisa sambil nyusuin, bisa sambil ngawasin anak juga. Secara kalo mau ngeblog kan harus buka laptop, artinya nunggu anak tidur dulu karena kalo lagi bangun pasti pengen ikutan ngetik. 😒

Percaya atau engga, gue bikin blog ini pun kepotong-potong. Tadi siang (jam 12an) anak gue lagi tidur kemudian bangun dan nyamperin gue. Mulailah dia pengen ikutan ngetik. Langsung gue ajak main. Haha.. Sekarang (udah setengah empat)  titantik lagi diasuh kakeknya. Okeh lanjut lageeeehh..

Well, gue pengen cerita tentang kehidupan-emak-emak gue (bahasa kerennya sih motherhood ya). Lebih tepatnya kejadian malem tadi. Si kei ngajakin begadang ampe tengah malem, doi gak bisa tidur karena kulitnya gatel-gatel. Dan gue pun udah cape dari pagi gak berenti-berenti ngasuh, masak, nyuci, ngajak main, dan lain-lain. Mengasuh anak emang gak segampang membalikan telapak kaki ya. Nah, saat malem itu gue entah kenapa rasanya emosi. Anak gue gak pules tidur karena gatel. Sementara gue udah sangat amat ngantuk dan butuh segera tidur. Akhirnya gue setengah teriak dan ikut nangis. 😬 😭

Mama gue langsung nyamperin gue dan ngegendong anak gue. Beliau tau banget gue udah cape. Walaupun ada orang tua dan adik-adik gue yang bantu ngasuh, but still, kita sebagai seorang ibu tetep cape. Apalagi si Kei ini sangat aktif, pengennya main terus. Lagi masanya emang.

Nah, abis dari situ gue ngerasa nyesel banget. Gue gak sampe marahin dan melakukan kekerasan sih, cuma nangis karena kesel aja, cape. Tapi nyeselnyaaa kayak abis marahin sambil mukul/nyubit. Di situ gue menyadari gue belum pinter mengendalikan emosi. Gue saaaangat berusaha semaksimal mungkin agar gue gak sampe bentak-bentak, mukul, nyubit, jewer, dan melakukan kekerasan baik fisik maupun verbal lainnya sama anak. Dan alhamdulillah gue gak pernah melakukannya. Nangis ngejerit pun gak ke arah Kei, lebih karena ngungkapin emosi yang udah terlalu nyesek rasanya di kepala gue. Apalagi jauh-jauhan sama suami. Beda banget sama kalau lagi ada suami. Gue ngerasa lebih rileks dan gak gampang kesel. Gue ngerasa lebih damai karena saat gue udah terlalu lelah, dia ada memeluk dan nenangin gue. Huaaah jadi kangen. 😢

Intinya, menjadi seorang ibu itu harus nyetok banyak kesabaran. Ah, lagi-lagi ngeblognya harus terinterupsi. Mamah udah teriak-teriak, ‘nih si Kei nya, Mamah mau solat, Bapak mau solat.’ Sekian dan terima kasih dulu ya, kalo ada kesempatan gue lanjut lagi. 😄