More than just a word

Anything, Everything, and All the Things..

‘Menyapih’ Kei dari Nonton

Leave a comment

Yupp.. setelah selesai menyapih Keiria Amandari dari ASI kesukaannya. Sekarang ada PR baru. Menyapih Kei dari nonton video-video kesukaannya. Kenapa harus ‘disapih’? Ya, karena aku merasa memang sudah saatnya. Fyi, aku bukan tipe orang tua yg melarang tivi atau gadget sih. Tipe parenting ala aku mah santai aja, gak saklek harus gini gitu. Mau nonton melalui televisi atau ponsel ya boleh-boleh aja selama dalam porsi yang wajar dan yang pasti kontennya harus ‘lulus sensor’ emaknya dulu 😁

Ini berawal ketika aku mulai melihat gelagat yang tidak baik dari Kei. Apa-apa dia pengen sambil nonton. Makan, mau tidur, pokoknya harus sambil nonton video kesukaannya di tivi. Bahkan dia betah berlama-lama tiduran atau duduk berdiam diri sambil menonton. Kalau dilarang bisa ngamuk-ngamuk. Aku tau ini enggak sehat. Anak seumurannya sudah semestinya lebih banyak bergerak. Aku pernah baca semakin banyak anak bergerak, semakin berkembang pula otaknya yang mempengaruhi kecerdasannya. Aku gak mau dong otak anakku gak berkembang karena kurang gerak 😱

Akhirnya, aku dan suami memutuskan untuk mematikan tivi saja. Secara total. Ya, kita sama sekali gak nonton tivi dalam lima hari terakhir. Pernah dengar, kan, pepatah bahwa anak mungkin tidak mendengar apa yang orang tua katakan, tapi dia akan memperhatikan apa yang orang tua lakukan. Artinya, jika kita ingin anak gak nonton tivi, maka kita juga gak boleh nonton tivi dong. Dan sampai hari ini, tepat sudah lima hari tivi di rumah kami tidak menyala. Kita bilang aja sama Kei batre tivi nya abis, gak bisa nyala πŸ˜‚

Apakah semua berjalan mulus? O, tentu tidak. Awalnya Kei ngamuk-ngamuk gak dibolehin nonton Elsa Frozen kesukaannya. Nangis-nangis bahkan sampai membanting krayonnya. Tapi peraturan tetap peraturan. Harus konsisten. Gak boleh ya tetep gak boleh. When they said ‘rules are made to be broken’, I said ‘my kid should not break the rules I made’. Lama-lama Kei lupa dengan video kesukaannya. Dia gak lagi minta nonton tivi saat makan. Gak lagi minta disetelin ‘Let It Go’ atau ‘Do You Wanna Build A Snowman’. Gak lagi minta nonton Thomas and Friends. Dia lebih banyak gerak. Gpp lah kita ikutan lari-lari di dalam rumah walau badan udah capek, ikut nemenin main tanah di luar walau baru ganti baju, membacakan cerita hingga mulut berbusa walau mata udah ngantuk. Itu lebih baik daripada membiarkannya berdiam diri di depan layar.

Ini semua tidak akan berhasil tanpa ada kekompakan dengan pasangan. Ya, kini aku paham kenapa ada istilah ‘udah beda pendapat’ (alasan yang sering dikemukakan pasangan yang berpisah). Ini penting sekali ternyata. Dalam hal apa pun kalau tidak sependapat ya bakal susah menyatukannya. Termasuk dalam hal pola asuh. Beruntung jika kita memiliki pasangan yang memiliki ‘energi’ yang sama dengan kita. Sehingga bisa meminimalisir perang pendapat yang mungkin berujung pertengkaran.

Aku bersyukur sekali menjadi seorang SAHM (stay at home mom). Aku bisa memantaunya sepanjang hari, melihat perkembangannya dengan mata kepala sendiri–bukan hanya mendengar dari orang lain. Aku juga tau betul bagaimana karakternya karena aku menghadapinya sepanjang hari, setiap hari. Dan yang paling penting memastikan peraturan yang kubuat berjalan dengan baik, karena orang lain belum tentu mampu menjalankan dengan baik peraturan yang kita terapkan untuk anak.

Ya, begitulah sepenggal kisahku dalam rangka menyapih Kei dari layar tivi. Apa pun pilihan dan gaya parenting kita, pastikan itu yang terbaik untuk anak ya, dear Parents πŸ˜ƒ

Author: keiria

A mother

What's Your Opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s