More than just a word

Anything, Everything, and All the Things..


Leave a comment

Kenyamanan?

Aku pernah baca suatu tulisan yang disebar di suatu grup, aku gak bener-bener tau sih siapa penulis aslinya. Tapi tulisan ini begitu membekas banget di pikiran aku. Berkisah tentang perceraian. Si istri menuntut cerai suami hanya karena kebiasaan buruk suami yang si istri gak bisa menahannya. Tulisannya sebagai berikut:

CERAI…..
Sebenarnya baik atau buruk? Papa dan mama bercerai, cuman hanya karena papa melemparkan puntung rokoknya ke dalam pot tanaman milik mama..Mamaku adalah seorang yang…bahkan untuk ke depan rumah beli sayur pun akan berpakaian super rapi dan tampil cantik. Waktu aku 12 tahun, papa dan mama bercerai, cuman karena, papa suka melempar puntung rokok ke dalam pot tanaman mama yang juga nggak begitu terawat. Tapi walau mama udah bilang berapa kali pun, papa tetap tidak berubah.
Waktu teman-teman dan keluarga mama datang untuk mencegah, mama selalu menjawab, “Dia orang baik, cuman 1 hal aja aku gak bisa terima..” Nenekku marah besar waktu itu, nenek bilang sama mama, “Kamu itu terlalu pinter, jadi aja banyak ngurusin hal yang kayak gini..”
Di mata nenek, menantunya adalah seorang yang hebat, gentle, pintar cari uang dan bisa melindungi keluarga, malahan anak perempuannya sendiri dia nilai sangat egois dan nggak pernah peduli akan perasaan orang tua dan anak. Nenek juga gak ngerti kenapa mama selalu membesar-besarkan papa yang gak suka mandi, suka sembarangan lempar kaos kaki, gak punya waktu temenin mama, gak inget ulang tahun mama, hari pernikahan mereka,……
Walaupun ini termasuk kekurangan, tapi bukannya semua cowok memang kayak gitu yah?
Aku masih ingat dengan jelas, waktu mama membawaku keluar dari rumah kami dulu, mama menangis dan berkata padaku, “Semoga kamu bisa mengerti mama, seumur hidup itu terlalu lama..”
Waktu aku 16 tahun, papa tiriku datang, dia tidak tinggi dan segagah papa, wajahnya juga biasa aja, tapi memang penampilannya bersih dan senyumnya lembut, aku sendiri bahkan nggak merasa sebal dengan keberadaannya.
Papa tiriku bisa membantu mama mengganti pot-pot tanaman yang sudah rusak, dia juga membelikan mama taplak meja baru dan satu set alat makan baru, dia membelikan mama sepasang sepatu putih yang sangat cocok dengan baju merah kesukaan mama. Bahkan, dia membelikan aku gantungan kunci cantik untuk mengganti gantungan kunci lama yang kusam.
Papa tiriku akan memegang tangan mama dan pergi jalan-jalan sore bersama untuk melihat matahari terbenam, mereka akan pergi berdua melihat bunga di taman depan rumah dan akan memberi tahu mama setiap nama bunga itu. Bahkan papa tiriku akan membawa pulang beberapa tangkai ranting yang sudah jatuh dan menaruhnya di dalam sebuah pot lalu meletakkan di atas meja belajarku.
Mama sangat suka belajar masak, setiap kali mama masak resep barunya, papa tiri selalu mengajakku duduk di meja makan dengan rapi sambil menunggu mama menghidangkan makanannya dan mulai mengomentari makanan mama, mama selalu tersenyum.
Suatu kali, mama sakit dan dirawat di rumah sakit, waktu aku pergi ke sana, aku melihat ada satu buket bunga lily di sebelah ranjang mama. Di atas meja ada buah yang udah dipotong, sedangkan papa tiriku duduk di sebelah mama sambil membaca buku. Seorang ibu yang ada di ranjang sebelah selalu memandang ke arah mama dengan tatapan iri. Aku akhirnya mengerti apa yang dimaksud dengan “Seumur hidup itu terlalu panjang”.
Pernikahan bukan cuman perlu dua orang yang baik, tapi perlu dua orang yang bisa merasa nyaman satu sama lain. Sama seperti membeli sepasang sepatu baru, kamu baru bisa merasa nyaman setelah kamu memakainya, gak cuman dengan melihat keindahannya saja. Karena seumur hidup itu terlalu panjang, maka sobat cerpen, penting sekali untuk menikahi orang yang nyaman, bukan hanya orang yang baik. Setiap kita memiliki sifat berbeda, maka kita membutuhkan orang berbeda untuk melengkapi pernikahan kita.
Memang bercerai bukanlah hal yang seharusnya menjadi tujuan kita, kalau bisa menikah dengan orang yang tepat, kenapa harus mencoba dengan orang yang tidak tepat kemudian bercerai?
Ternyata cinta saja tidak cukup, rasa nyamanlah yg diinginkan setiap orang.
Nah, dari sini jelas banget kalo yang dibutuhkan setiap orang dalam pernikahan adalah rasa nyaman. Begitu halnya dalam mencari jodoh. Tidak cukup hanya baik, bertanggung jawab, setia, dan sederet sifat-sifat baik lainnya. Tapi bagaimana seseorang itu bisa membuat kita merasa nyaman. Kalau hanya baik dan setia sih banyak. Semua orang pun pada dasarnya baik. Tapi yang membuat nyaman? Gak semuanya bisa. Mereka bilang harus saling menerima kekurangan pasangan. Tapi jika benar-benar tidak bisa menerima, lantas haruskah dipaksakan meski sakit? Sama halnya seperti memilih baju atau sepatu. Sepatu itu memang bagus, keren, dan tampak gaya. Tapi kalo emang bener-bener gak muat di kaki kita, apa harus kita paksakan untuk memilikinya meski kaki selalu kesakitan setiap saat memakainya? Atau mencari opsi lain yang bener-bener pas di kaki kita?
Aku sendiri bukan tipe orang yang bisa bertahan dalam ketidaknyamanan. Aku cenderung menghindari ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan ini bisa jadi sesuatu, situasi, atau seseorang. Orang yang kata-kata atau perilakunya selalu menyakitkan dan membuatku merasa tertekan, aaahh pasti aku pengen jauh-jauh dari orang itu. Begitu pula dengan situasi. Maksudku, aku gak mau buang-buang waktu hanya untuk berada dalam tekanan. Masih banyak sumber kebahagiaan lain yang bisa dicari. Dan jika ada sesuatu yang membuatku bertahan, artinya sesuatu itulah yang bikin aku nyaman.
Aku juga bukan tipe orang yang bisa memendam apa yang aku rasa. Karena itu sungguh gak nyaman. Aku akan meluapkannya. Dalam bentuk tulisan, curhat ke suami, atau curhat kepada teman atau keluarga yang aku merasa nyaman dan aman untuk bercerita.
Sebagian orang mungkin memilih untuk bertahan walau tidak nyaman, memilih untuk bungkam walau tertekan, walau menyakitkan, hanya karena mereka (merasa) tidak punya pilihan lain, atau alasan kesopanan. Tetapi akan selalu ada pilihan jika kita BERANI untuk memilih. Dan aku memilih untuk merasa bahagia, juga nyaman. Kita semua pantas untuk merasa bahagia.

Btw, kalau ada yang tahu siapa penulis cerita yang aku kutip itu atau mungkin KAMU-lah si penulis, beri tahu aku, ya! Biar aku bisa kasih credit 🙂